Rabu, 31 Agustus 2011

HIKMAH RAMADHAN (MENJADIKAN RAMADHAN SEBAGAI GERAKAN MORAL)

Pesan ramadhan tidak boleh berhenti dengan berakhirnya bulan ramadhan. Ketaatan, kesolehan selama ramadhan dan sifat-sifat terpuji lainnya yang dipelihara dan dipraktekkan dalam bulan suci ramadhan seperti menahan nafsu dari perbutan tidak terpuji tidak berbohong, suka menyantuni fakir dan miskin, tidak berfikiran kotor, gemar memperbanyak amal sosial dan amal ritual pribadi, dan banyak melakukan kebajikan lainnya seharusnya dilanggengkan atau diteruskan dan diterapkan pada 11 bulan mendatang sampai memasuki ramadhan tahun mendatang. Inilah menurut saya hakikat LA’AL LAKUM TATTAQUN. Pada Surat al Baqoroh ayat 183. Akhir ayat ini seperti itu bunyinya. Yang dalam kaidah bahasa arab disebut fi’il mudhorik. Artinya sutuatu perbuatan yang dilakukan sekarang dan berlanjut terus menerus dimasa yang mendatang. Dalam kontek ini kebaikan-kebaikan yang dilakukan dalam bulan ramadhan tidak berhenti sehabis ramadhan namun kebaikan-kebaikan itu terus dilanggengkan/dipelihara dan diteruskan sampai akhir hayat. “Dan janganlah kamu mati terkecuali dalam keadaan Islam” (tunduk dan patuh pada Allah saja).
Kesucian lahir dan bathin yang telah diproleh selama bulan suci ramadhan hendaknya dijadikan modal dasar untuk melakukan gerakan moral untuk melakukan perubahan-perubahan perilaku yang tidak terpuji, tidak jujur, berkhianat, tidak memegang jajnji, berlaku tidak adil, menzolimi yang lemah, dan lain sebagainya.
Apabila momentum ramadhan ini ummat Islam mampu menjadikannya sebagai gerakan moral mereformasi perilaku menjadi akhlak muliah, maka bangsa ini dipastikan akan menjadi bangsa yang muliah, disegani. “Jika suatu bangsa beriman dan bertaqwa maka pasti akan Kami berikan kebarkahan dari langit dan bumi”.
Bangsa ini (Indonesai) sudah banyak kehilangan momentum. Momentum hari-hari besar agama, momentum hari-hari nasional, momentum peringatan Allah yang berupa bencana alam. Momen-momen tersebut banyak memberikan pesan-pesan moral. Bangsa ini kurang cerdas menangkap pesan-pesan moral ini untuk dijadikan sebagai gerakan moral. Bangsa ini lebih cerdas memaknai perayaan agama sebagai serimonial belaka. Bangsa ini lebih tertarik berdebat soal mengapa hari lebaran tidak bisa disamakan. Bangsa ini hanya mampu memaknai lebaran sebatas pesta, pakia serba baru, mobil baru, makan yang enak. Bangsa ini tidak mengerti hakikat idul fitri itu mensyukuri kemenangan perjuangan dalam bulan puasa denga cara memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil. Mengapa bangsa ini tidak berfikir perubanahan apa yang harus dilakukan pasca ramadhan sebagai pertanggungjawaban moral. Jangan sampai ramadhan kali sama dengan ramadhan yang lalu yang tidak memberikan perubahan apa-apa bagi kemajuan bangsa dan Negara ini.
Ummat Islam sebagai ummat yang paling dominan seharusnya mampu memberikan ketauladanan yang lebih baik. Pelaksanaan ibadah-ibadah yang menuntut ummat ini bertanggung jawab menjadikan bangsa ini lebih baik. Banyak ibadah yang pelaksanaannya melibatkan Negara karena sudah ada Undang-undangnya seperti pelaksanaan ibadah haji, zakat, perkawinan, perbankan, dan lian-lain. Berjuta-juta setiap tahunnya Negara mempasilitasi pemberangkatan jamaah haji menunaikan ibadah haji ke Arab Saudi. Hampir semua pejabat di Negara ini sudah menunaikan haji dan umroh. Bakhkan umroh sudah dijadikan model rekreasi spiritual. Seharusnya mereka itu tidak menjadikan ibdah ini sebatas ibadah ritual namun juga sebagai gerakan moral memperbaiki kerusakan akhlak bangsa ini.
Puasa bukan saja sebagai penunaian kewajiban spiritual pribadi terhadap Allah SWT, tetapi harus juga dimaknai sebagai gerakan moral menuju tercapai kesempurnaan manusia yang dalam istilah al-quran disebut dengan manusia muttaqin.
Manusia muttaqin menjadikan akhlak sebagai pakaian utamanya dalam melaksanakan seluruh aktifitas kehidupan di muka bumi ini, baik sebagai politisi, sebagai pejabat, sebagai rakyat , sebagai pengusaha, dan apapun profesinya. Yang membedakan manusia baik dengan manusia tidak baik adalah akhlaknya, jadi kebaikan itu diukur dari segi akhlak, yang dalam bahasa sehari-hari sering disebut dengan moral.
Nabi pernah bersabda : “jika ummat ku mengetahui banyak kebajikan bulan ramadhan ini pasti mereka meminta supaya ramadhan ini sepanjang tahun”. Kontek hadits ini dikemukakan bahwa tingkat korupsi, kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah/ pejabat maupan partai politik sangat berkurang pada bulan puasa , sebab orang berupaya mensucikan hati dan berfikiran positif, menjaga berperilaku yang tidk terpuji. Tapi sayang puasa Cuma satu bulan saja. Seandainya puasa sepanjang tahun maka tidak ada pejabat yang korupsi di Negara ini.
Tugas kita harus menjaga kesucian yang telah diperoleh setelah menunaikan seluruh rangkaian ibadah puasa jangan sampai tercemari dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang dicelah oleh agama. Seperti korupsi, mencuri, menipu, dengki, iri hati, dan lain-lain yang bertentangan dengan norma-norma agama.
Tulisan ini dikirim dan disebarkan oleh Hambali Yusuf, SH., M.Hum di Palembang.
Palembang 1 September 2011 M/2 Syawal 1432 H.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Loading...